Kongres #2 Komune Rakapare

p.s. Tidak semua peserta kongres terjepret karena keasikan diskusi sehingga minim dokumentasi layak #mohonmaaflahirbatin

Pada tanggal 3-9 Januari 2018 lalu, Komune Rakapare mengadakan Kongres #2 di Bale Pare, Jalan Mojo III No. 16 Surabaya. Kongres (kongkow-ga-beres-beres) merupakan sebuah ajang pertemuan simpul-simpul Komune Rakapare di berbagai daerah yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Kongres #1 pertama kali diadakan di Desa Sunten Jaya, Lembang tahun 2016 lalu. Sebagai catatan, Komune Rakapare pernah (coba) dirintis di beberapa daerah. Komune Rakapare diinisiasi pertama kali di Bandung pada bulan Juli tahun 2014. Pada tahun 2015, teman-teman di Jabodetabek dan Surabaya pun memulai Komune Rakapare di wilayah masing-masing. Pada tahun 2016, teman-teman dari Jogja sempat mewacanakan hendak membentuk komune serupa di Jogja.

Latar belakang utama diadakannya Kongres#2 (selain sebagai sebuah rutinitas yang telah disepakati bersama dalam rancangan AD/ART), adalah bahwa selama 2 tahun ke belakang banyak perkembangan dan perubahan yang terjadi di masing-masing daerah. Ada yang sama, ada yang berbeda; baik dari segi landasan pemikiran, kasus-kasus yang dialami, perubahan kondisi anggota, dan lain sebagainya. Kesemuanya ini kami anggap penting untuk didiskusikan secara kolektif.

Reportase Kongres ini pun kami tuliskan karena perkembangan dan perubahan yang kami alami sebagai sebuah komune tak lepas dari interaksi dengan kawan-kawan maupun publik secara luas. Kritik, insight, gosipan, pengalaman kolaborasi dan segala jenis masukan berkontribusi bagi pertumbuhkembangan tersebut. Karena itu kami bagikan kembali ke kawan-kawan semua.

*

Perkembangan Terkini

Sejak berdiri pada tahun 2014, Komune Rakapare mengidentifikasi diri sebagai “Organisasi Penelitian dan Pergerakan Sosial”. Seiring berjalannya waktu dan dengan berbagai perkembangan, Komune Rakapare mengalami perubahan. Pada salah satu sesi awal dari Kongres, kami mendiskusikan dan mengevaluasi secara periodik perjalanan Komune Rakapare di masing-masing wilayah.

Inisiasi untuk membentuk Komune Rakapare sebetulnya diawali dengan pembentukan sebuah forum mahasiswa bernama “Garda Perak” (Garis Depan Perjuangan Rakyat) yang banyak mengadakan kajian untuk merespon isu dan fenomena sekitar serta terlibat bersolidaritas dalam aksi dan demonstrasi. Bibit pemikiran dalam forum ini berkutat pada wacana seputar gerakan mahasiswa, gerakan intelektual, serta konflik yang ditimbulkan negara.

Komune Rakapare sendiri dicetuskan pada Juli 2014 ketika sedang terjadi Konflik Agraria di Karawang, dimana terdapat sengketa tanah yang terjadi antara petani dengan grup Agung Podomoro. Komune Rakapare pun dibentuk untuk mengorganisasi penelitian lapangan dan gerakan solidaritas terhadap petani di Karawang.

Tenda turlap pertama saat di Karawang

Selanjutnya, Komune mulai menumbukan gerakan literasi dengan membuat acara-acara diskusi, kelas, dan screening/nobar. Sekolah Rakapare pun diinisiasi sebagai wadah pendidikan dan rekrutmen. Kawan-kawan alumni Sekolah Rakapare di Jatinangor salah satunya membuat gerakan “Indonesia Pintar” untuk memetakan fenomena anak putus sekolah. Komune Rakapare juga sempat melakukan kunjungan lapangan untuk meneliti konflik yang diakibatkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal di Gunung Salak serta konflik petani Rembang dengan pabrik semen. Keduanya bersifat initial dan kami menggunakan catatan lapangan sebagai materi publikasi, dalam rangka bersolidaritas dengan para petani.

Kemudian, Komune Rakapare mulai dirintis pula di Jabodetabek dan Surabaya. Komune Rakapare di masing-masing wilayah tersebut merespon isu dan fenomena di sekitar melalui berbagai bentuk gerakan. Tentu saja sepanjang perjalanan kami mengalami pula konflik internal, mulai dari isu personal, ideologi-metodologi, manajemen kerja, hingga keuangan. Masalah keuangan utamanya menjadi persoalan ketika melakukan penelitian tentang konflik agraria yang membutuhkan biaya perjalanan kunjungan lapangan. Beban akademis pun menjadi persoalan bagi para anggota yang hampir seluruhnya berstatus mahasiswa. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk kemudian membuat kami bergeser fokus pada isu-isu urban. Pertimbangan lainnya adalah pada saat bersamaan, kami seringkali terlibat dalam gerakan penolakan penggusuran Pedagang Kaki Lima (PKL) dan kampung kota. Beberapa kali pula terlibat dalam aliansi-aliansi gerakan sosial. Di sisi lain, kami tengah banyak melakukan studi tentang urbanisasi kontemporer dan pembangunan neoliberal, termasuk prospek “urban revolution”.

Sejak tahun 2016, beberapa dari kami mulai tertarik dengan ide-ide mengenai pengorganisasian ekonomi kolektif oleh pekerja. Hal ini dipengaruhi oleh adanya transisi para anggotanya, dari mahasiswa dengan segala heroisme dan privilesenya menjadi para lulusan “pencari-kerja” (dan prekariat) demi membuat dapur terus mengepul. Pada periode ini, kami banyak melakukan refleksi dan memikirkan kembali episteme gerakan hingga bagaimana strategi yang relevan. Unit-unit koperasi mulai dibuat sebagai wadah eksperimentasi dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

*

Komune: Mengimajinasikan Kembali

Dunia kita hari-hari ini berada dalam kompleksitas krisis; kapitalisme tingkat lanjut-urbanisasi neoliberal mewujud dalam rezim kerja upahan yang mengeksploitasi dan membungkam perspektif pekerja, serta pencaplokan ruang-ruang hidup dan jejaring sosial-ekologis-historis komunitas, atas nama akumulasi kapital. Imajinasi kita membentur nostalgia dan romansa esensialis-naturalis, terlempar-lempar antara “yang privat” dan “yang publik”[1], seolah tak punya daya untuk meng(re)konstruksi imajinasi akan “alternatif” yang korektif.

Gagasan dan praksis “komune” (masih) kami anggap relevan dan kontekstual dalam upaya pencarian dan eksperimentasi akan “yang komun” (the common). Agak sulit menerjemahkan “common” ke dalam Bahasa Indonesia (lebih-lebih ketika akar katanya, “communis”, mengalami demonisasi pasca 1965). Walaupun demikian kita tahu, pengetahuan dan interaksi komunal dalam proses produksi dan reproduksi kehidupan, yang secara simultan spontan dan terorganisir, terbukti terlalu kompleks untuk direduksi menjadi sekadar logika negara (publik) maupun pasar (privatisasi)—yang sejak imajinasi dan bangunan politisnya tidak (pernah) ingin mengkultivasi komunitas.

Komune Rakapare berupaya mengeksperimentasikan perebutan kembali “yang komun” tersebut dari kapitalisme[2], untuk kemudian membalikkannya demi kehidupan komunal yang otonom. Otonomi yang dimaksud adalah kondisi dimana setiap unit maupun individu memiliki kapasitas dan akses untuk terlibat dalam proses-proses penciptaan (kreatif) maupun pengambilan keputusan yang berkenaan dengan aspek-aspek kehidupannya. Menuju otonomisme kolektif membutuhkan kerja-kerja yang terampil-intensif, telaten, bahkan tak jarang mengalienasi—apalagi ketika syarat-syarat otonomi tiap individu berada dalam krisis atau masih dikuasai oleh kapitalisme.

Komune, dengan demikian, berfungsi sebagai alternatif logis dan historis terhadap logika yang Privat maupun yang Publik, selain juga sebagai landasan ideologis bersama dimana Marxisme, Ekologi, Feminisme, Anarkisme, dan paradigma atau disiplin kritis lain yang relevan menemukan irisannya. Prinsip-prinsip yang disepakati dalam Komune menjadi dasar pembentukan jejaring (unit) masyarakat kooperatif, yang akan merumuskan strategi dan program untuk melumpuhkan kapitalisme secara sistemik.

Salah satu upaya awal yang disepakati oleh kongres Komune Rakapare dalam perjalanan menuju otonomi kolektif tersebut adalah meninggalkan wacana berorganisasi yang selama ini banyak kita temui atau alami, yang disadari-tidak disadari, masih melanggengkan hierarki, patronase, diskriminasi kelas, gender, rasial, agama, etnis, dan abilitas, serta penghisapan kerja. Pasalnya, otonomi tidak dapat dicapai jika hal-hal yang tersebut masih berlaku. Oleh karena itu, imajinasi mengenai cara-cara mengorganisir dan pengelolaan (self-governance) perlu terus kita rekam, asah, eksperimentasikan, dan evaluasi bersama.

*

Platform

Pada saat kongres, kami menyepakati bahwa penetapan Direktur Wilayah dan Sekretaris sebagai ujung pangkal kepengurusan Komune Rakapare di tiap wilayah sudah tidak lagi relevan semenjak setahun setengah lalu. Kebijakan tersebut terbukti membebani orang-orang yang menjadi direktur dan sekretaris tetap, selain juga menimbulkan patronase dan dominasi figur. Seperti disebutkan sebelumnya, banyak permasalahan yang kami alami sebagai sebuah kolektif (mulai dari konflik antar anggota yang tak bisa direkonsiliasi, masalah keuangan, manajemen waktu, dan lain sebagainya)—yang sedikit banyak berhubungan dengan kegagalan kami merumuskan sistem yang koheren.

Oleh karena itu, selama setahun setengah ke belakang, kami mulai membongkar perlahan-lahan sistem yang kami buat sendiri dan mulai mencoba cara-cara lain. Melalui pemikiran teoretis dan politis, Komune Rakapare mencoba mengimajinasikan dan menerjemahkan “alternatif” strategi seperti apa yang kiranya relevan.

Dengan konteks kondisi yang kami ceritakan sebelumnya, kami sepakat bahwa tidak ada masyarakat alternatif dan pergerakan yang dapat bereproduksi secara kuat apabila kita tidak meredefinisi secara kooperatif cara-cara kita bereproduksi, dan mengakhiri pemisahan antara “yang personal” dan “yang politis”, “aktivisme” dan “reproduksi kehidupan sehari-hari”.

Kami pun menyepakati sebuah platform, atau tekno-logi yang kami fungsikan sebagai dasar pelaksanaan unit-unit maupun proyek dalam Komune Rakapare.

(Sebagai catatan, perlu dipahami bahwa ketiga unsur dalam platform ini tidak terpisah satu sama lain; produksi yang komun pertama-tama membutuhkan transformasi mendalam untuk merekombinasikan kembali apa yang telah dipisah-pisahkan oleh “pembagian kerja” ala kapitalisme[3].)

  • Riset

Di tengah koevolusi rerantai kapitalisme dan urbanisasi neoliberal, yang secara biopolitis tak hanya menguasai dimensi material tapi juga yang imaterial, penting untuk merumuskan kembali situasi secara ontologis dan epistemologis. Basis teoretis diperlukan dalam memformulasikan strategi pergerakan yang relevan, kontekstual, dan korektif. Oleh sebab itu, pergerakan, program atau proyekan dalam Komune Rakapare melandaskan diri pada riset ilmiah. Secara timbal balik, proses belajar dan riset dilakukan secara kolektif untuk tujuan perubahan sosial dan turunan-turunannya; seperti pengembangan metode, pengembangan produk, dan seterusnya. Inovasi-inovasi saintifik ini harus selalu terhubung dengan perspektif teoritis dan politis kolektif, dimana aspek sosio-ekologis kelas tertindas, kelompok yang termarjinalkan, perempuan, serta gender non-conforming lainnya memainkan peranan penting.

  • Seni

Hari-hari ini kita melihat bagaimana seni dan estetika menjadi medium menyebarnya logika dominasi dan akumulasi yang merugikan rakyat banyak dan alam sekitar. Oleh karena itu, perlu ada upaya-upaya merelevansikan seni untuk perubahan sosial; melampaui evaluasi bentuk dan teknik semata (meskipun kita sama-sama paham bagaimana bentuk dan teknik saling-mencerminkan ideologi). Seni tidak saja terbatas pada galeri, panggung, ataupun ruang pamer, bukan saja melulu soal “rasa” dan “passion” seperti yang selama ini banyak dilitanikan; tapi juga merespon ruang-ruang hidup dengan beragam metode, riset, ekspresi artistik, dan penciptaan kemungkinan interaksi-relasi sosial-ekologis tandingan.

  • Koperasi

Pemahaman koperasi di Indonesia pasca ‘65 dikonstruksi secara monolitik dan dicerabut dari landasan pemikiran untuk menjadi pengorganisasian ekonomi alternatif kelas buruh/pekerja terhadap kapitalisme. Oleh karena itu, kami berniat mengadakan berbagai macam diskusi dan studi untuk mengeksplorasi gagasan, strategi, dan formulasi koperasi yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan tiap unit dalam Komune Rakapare.  Pengorganisasian rerantai ekonomi (nilai, sumber daya, kerja dan perspektif pekerja, pertukaran, serta surplus) mesti kita redefinisi, uji cobakan, dan sebarkan terus menerus untuk mewujudkan jejaring masyarakat kooperatif yang dicita-citakan.

*

Media

  • Media Online

Sehubungan dengan media online, kami sepakat untuk mereaktivasi kembali website—yang sampai hari ini sayangnya masih berupa draft rancangan dan belum diluncurkan versi well-designednya karena kekurangan tenaga programmer (anggota kami yang biasa menjadi programmer lagi melanjutkan studi di negeri seberang). Oleh karena itu, untuk sementara kami menggunakan platform blog dan template gratisan seperti sekarang, sembari mencari desain template yang mendekati desain web yang sudah kami buat. Akun media sosial Komune Rakapare lainnya, seperti instagram, facebook, dan twitter akan terintegrasi pada website ini.

Selain profil, portofolio, dan arsip Komune Rakapare, kami akan menggunakan salah satu menu di web untuk mewadahi jurnal, artikel, opini, ilustrasi, video atau apapun itu yang berhubungan dengan perkembangan pemikiran, peristiwa, dan kegiatan unit-unit dalam Komune Rakapare.

  • Media Cetak

Selain media online, Komune Rakapare berencana menerbitkan versi media cetak (semacam eksemplar zine-jurnal), yang menerima pengumpulan tulisan maupun karya visual yang berhubungan dengan isu-isu sosial, politik, ekonomi, wacana alternatif, urban, atau aspek keseharian lainnya, yang dibuat untuk meretas jalan menuju masyarakat kooperatif dan progresif. Untuk mengetahui karya tulis atau visual seperti apa tepatnya yang kami terbitkan, juga mekanika kompensasi kerja-kerja penulisan atau visual, kawan-kawan bisa mengecek Edisi #1 nanti.

*

Unit-Unit Eksisting

Koperasi Pendidikan Ura-Ura

Ura-Ura sebagai unit koperasi pendidikan saat ini beroperasi di Surabaya. Ura-Ura sedang merancang sistem koperasi pendidikan dan kurikulum yang lebih dialektis antara pendidik dan siswa, membangun sistem pertukaran, mengadakan kelas-kelas, dan merekrut tenaga pendidik untuk membangun institusi pendidikan alternatif. Untuk sementara waktu, Koperasi Ura-Ura Bandung sedang vakum alias belum dapat beroperasi karena permasalahan sumber daya manusia.

Sanggare – Koperasi Perupa Independen

Sanggare adalah Unit Koperasi Perupa Independen yang untuk saat ini beroperasi di Bandung. Sebagai koperasi kerja-kerja perupaan dan artisanal, kami sedang membangun studio seni & desain, mengembangkan produk-produk artisanal, dan membangun platform literasi pekerja imateriil. Kami juga sedang berusaha mensinergiskan itu semua dengan pengorganisasian komunitas yang tengah dilakukan bersama paguyuban PKL Ganeca, khususnya terkait program penataan ekosistem Kaki Lima. Ke depannya, Sanggare akan melakukan rekrutmen untuk menambah anggota pekerjanya.

Senandung Sejuk – Kombucha Nanobrewery Co-op

Senandung Sejuk adalah Unit Koperasi Peramu Kombucha, yang dirintis seusai kelas kombucha oleh para alumni kelasnya, yang pernah diselenggarakan oleh Koperasi Pendidikan Ura-Ura. Setelah mengetahui khasiat dan praktik pertanian kombucha yang ternyata cukup sederhana, koperasi ini dipertahankan untuk juga menjaga kesehatan secara kolektif dan pelan-pelan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap industri farmasi. Untuk saat ini, Senandung Sejuk beroperasi di Surabaya dan sedang aktif terlibat dalam kegiatan rutin Pasar Sehat. Kesibukan koperasi meliputi riset produk makanan & minuman fermentasi lainnya, perluasan pasar, kolaborasi dengan gerakan lain, dan melakukan pengembangan produksi Kombucha.

*

Pengorganisasian Komunitas dan Solidaritas

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam ranah pengorganisasian komunitas selama ini diakui berjalan dengan turbulensi yang relatif tidak berarah. Pengorganisasian dalam Komune Rakapare kami evaluasi kembali keberjalanannya dengan meniti latar belakang pemikiran. Setelah dilihat kembali, banyak aktivitas pengorganisasian dilakukan karena terpantik oleh dorongan impulsif. Salah satunya, akibat ketidakmampuan membaca konteks permasalahan yang terjadi. Hal ini menjadi sebuah kendala ketika harus bersentuhan dan menyikapi dinamika permasalahan bersama lapisan masyarakat tertentu.

Aktivitas pengorganisasian dan solidaritas membutuhkan energi yang besar dan sumber daya yang mumpuni. Pada akhirnya, banyak sumber daya manusia di unit lain yang terserap energi dan waktunya, sehingga agenda-agenda lain yang berbenturan seringkali tidak terselesaikan dan justru terbengkalai. Untuk mengatasi persoalan ini, aktivitas pengorganisasian dan solidaritas akan dirangkum dalam satu unit tersendiri. Hal ini sejalan dengan kesepakatan Kongres #2, dimana Komune Rakapare ke depannya hendak mengorganisir diri melalui unit-unit kolektif, dengan moda produksi dan mekanisme reproduksi yang kooperatif.

Inisiasi unit ini pun dilakukan untuk mengatasi persoalan mekanisme reproduksi organisator yang seringkali dipermasalahkan, namun belum ditemukan solusinya, termasuk oleh Komune Rakapare. Seringkali, permasalahan putusnya organisator dari komitmen dan moda kerjanya adalah akibat tidak adanya jaminan materiil, subsidi, maupun pendanaan untuk pemenuhan kebutuhan hidup secara otonom. Untuk menghindari dikotomi “kerja pribadi” dan “pengorganisasian komunitas” dalam unit ini, perlu dilakukan eksperimen kolektif untuk menemukan bagaimana organisator bisa bereproduksi dengan moda kerjanya tersebut.

Salah satu alternatif yang tengah sering kami bicarakan adalah koperasi. Komune Rakapare melakukan studi terus menerus mengenai metode-metode pengorganisasian komunitas dan solidaritas, agar mampu menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang relevan di era kapitalisme kontemporer (late stage capitalism) ini. Perlu ditemukan metode(logi) baru di tengah dominasi wacana yang berkembang dalam aktivitas pengorganisasian komunitas, yang pada kenyataannya justru seringkali melemahkan dan mengeksploitasi kembali masyarakat—seperti wacana patronase, hierarki dan dikotomi dalam struktur kepengurusan, pengabaian bias kelas, gender, ras, kepemilikan dan penguasaan alat produksi, kompleksitas varian moda produksi, dlsb. Hal-hal semacam ini seringkali membuat aktivitas pengorganisasian tidak menuju satu titik transformasi yang kontekstual dan relevan terhadap permasalahan yang terjadi.

Oleh sebab itu, kebutuhan akan unit Koperasi Organisator Komunitas relevan dengan misi politik Komune Rakapare untuk mewujudkan Cooperative Society. Dengan 3 platform yang disepakati Komune Rakapare, unit Koperasi Organisator Komunitas akan melakukan aktivitas riset-pengorganisasian untuk menemukan kemungkinkan inisiasi kanal-kanal koperasi baru. Hal inilah yang menjadi gagasan Komune Rakapare dalam mewujudkan transformasi sosial ketika melakukan advokasi dan penelitian-pengorganisasian bersama lapisan masyarakat lain.

Tujuan unit Koperasi Organisator Komunitas adalah bagaimana melakukan riset, mereproduksi pengetahuan, mengejewantahkan wacana dan hasil penelitian secara kontekstual, serta membangun koperasi-koperasi otonom yang mampu menjadi sumber produksi dan reproduksi dalam komunitas. Di kemudian hari, aktivasi koperasi-koperasi baru itu diharapkan dapat menjadi satu konjungtur sistematik-subsisten dengan unit koperasi lain yang relevan, baik dari dalam maupun luar Komune Rakapare, dalam mewujudkan jejaring kooperatif.

Komune Rakapare akan memposisikan diri dengan menyesuaikan relevansi keberadaannya dengan situasi dan dinamika lapangan, antara menjadi “massa solidaritas” atau in charge sebagai organisator. Masing-masing memiliki tupoksi yang berbeda, namun tetap berada dalam satu koridor untuk mencapai tujuan bersama yang kontekstual terhadap permasalahan yang tengah dihadapi.

Untuk saat ini, pengorganisasian komunitas memfokuskan diri dalam isu urban informalurban poor. Posisi rentan, kondisi basis materiil, dan moda produksinya kami anggap relevan dan hampir serupa dengan kondisi kawan-kawan yang bekerja di Komune Rakapare.  Hal ini terkait dengan upaya kami untuk menciptakan relasi yang bukan berdasar pada patronase dan kebergantungan-terhadap-organisator, melainkan berdasar pada kerjasama sesama kelas pekerja/tertindas untuk merebut kembali kehidupan kolektif yang otonom.

*

Pola Kolaborasi

Komune Rakapare dan unit-unit koperasinya terbuka dalam melaksanakan kerjasama. Setiap kerjasama yang dilakukan dengan pihak manapun akan dipertimbangkan konteks dan relevansinya terhadap nilai-nilai Komune, kapasitas, serta situasi-kondisi masing-masing.

Setiap unit Komune Rakapare berupaya untuk selalu kritis dan menjaga otonomi terkait nilai-nilai Komune, menjaga sumber-sumber finansial tetap independen dari kepentingan politik yang bertentangan, serta harus terus mengkritisi dampak dan konsekuensi dari kerjasama yang akan dilakukan.

Setiap unit koperasi memiliki otonomi untuk melaksanakan kerjasama, dengan tetap berkomunikasi dan berkoordinasi dengan unit lain yang tergabung dalam komune. Kerjasama diupayakan agar tetap sejalan dengan misi-misi pengembangan produksi, menyokong ketahanan kolektif, pengembangan sistem kelola, juga pengembangan platform riset, seni dan koperasi.

*

Keanggotaan & Rekrutmen

Hampir setiap organisasi memiliki persoalan yang sama, yaitu kekurangan sumber daya di tengah kalang kabutnya menuntaskan agenda-agenda demi mencapai tujuannya. Begitu juga Komune Rakapare. Berbagai macam metode rekrutmen telah dilakukan dan sampai hari ini kami masih mengulik metode yang kiranya relevan dengan kultur dan metode kerja kolektif yang berjalan dalam organisasi.

Pasang surutnya keanggotaan berbanding lurus dengan efektifitas dan capaian yang diagendakan bersama. Terlalu banyak “massa mengambang” yang direkrut, tidak mampu diakomodasi lewat moda-moda kerja yang ada. Proses rekrutmen pada akhirnya harus terus dialektis dengan pendidikan dan agenda yang sedang dilakukan oleh Komune Rakapare, sehingga sumber daya yang direkrut menemukan relevansi dengan kebutuhan organisasional.

Dengan mengusung gagasan Koperasi, Komune Rakapare akan melakukan rekrutmen sesuai dengan moda produksi yang dapat diakomodasi dalam jejaring unit koperasi. Untuk menghindari dikotomi antara “kerja” dan “gerakan sosial”, kami mencoba mendefinisikan ulang “kerja”. Kami berupaya mengorganisir diri lewat perspektif kelas pekerja yang mengkoperasikan kegiatan produksinya sekaligus berkomitmen (atau memiliki sikap ideologis) terhadap perubahan sosial yang menjadi syarat otonominya.

Kita semua tahu, menghancurkan ketergantungan terhadap negara dan sistem kapitalisme, sembari menyeimbangkan antara pengasahan daya kreatif, komitmen sosial, dan laju keorganisasian tidaklah mudah. Oleh karena itu, setiap anggota Komune Rakapare mesti tergabung dalam suatu unit koperasi sebagai langkah awal menjamin independensi dan otonomi, terutama terkait reproduksi serta ketahanan individu-kolektif.

Komune Rakapare berencana melakukan mekanisme rekrutmen yang berdasar pada optimalisasi unit eksisting serta kemungkinan/potensi untuk menginisiasi koperasi baru. Mekanisme rekrutmen akan berlandas pula pada proses timbal-balik antara Komune Rakapare dan calon anggota yang tertarik bergabung. Detail mekanisme sedang kami susun lebih lanjut dan akan disampaikan pada periode rekrutmen. Nantikan! (:

*

Catatan Kaki

[1] Lih. Hardt, Michael. 2010. “The Common in Communism” (online), http://commoningtimes.org/texts/hardt-common-in-communism.pdf (diakses pada 29 Januari 2018).

[2] Terutama dalam tatanan neoliberal yang menyadari bagaimana memanfaatkan potensi-potensi komunal untuk melancarkan akumulasi kapital, i.e. konsepsi modal sosial, ekoturisme, penyembunyian kerja-kerja reproduksi, dlsb. Lebih lanjut, lih. Federici, Silvia. 2010. “Feminism and The Politics of the Common in an Era of Primitive Accumulation”, dalam Revolution at Point Zero: Housework, Reproduction, and Feminist Struggle (2012), Oakland: PM Press, hlm. 138-48.

[3] Lebih lanjut lih. Mies, Maria dan Veronika Bennholdt-Thomsen, 1999, “Defending, Reclaiming, and Reinventing the Commons,” dalam The Subsistence Perspective: Beyond the Globalised Economy, diedit oleh Veronika Bennholdt-Thomsen dan Maria Mies, London: Zed Books, hlm. 141-64.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *